Make your own free website on Tripod.com
InSwa Profiles

HOME

InSwa Profiles | Philosophy | Services | Contact Us
INDONESIA SOLID WASTE ASSOCIATION

Keperdulian InSWA terhadap penanggulangan sampah khususnya di Indonesia

Sebuah Artikel :

InSWA

1704ht33.jpg

Mengelolah Sampah Dapur Menjadi Kompos, memelihara Sungai dan Menjaga Laut
 
Sampah membanjiri dimuara-muara kali Surabaya, disela-sela mangrove dapat dengan mudah dijumpai plastik, sandal, botol dan berbagai jenis sampah lainnya. Tidak hanya di Surabaya, di pulau Pari, Muara Angke,di Jakarta. Sampah yang berasal dari pemukiman padat penduduk seperti Surabaya dan Jakarta lambat laun akan menjadi masalah Nasional.
Upaya Kecil dilakukan penduduk Bantaran Kali Surabaya di Desa Bambe - Driyorejo, mereka mulai memilah sampahnya dan menjadi kan sampah dapur mereka menjadi kompos.
Dalam tulisan ini juga menginformasikan lokasi yang telah menerapkan pengelolaan sampah menjadi kompos dan bagi anda yang ingin mencoba mengolah sampah anda menjadi kompos, anda wajib membaca tulisan ini.
 
Kali surabaya dan sampah
(rangkuman oleh : Faterita Agustina, Daru setyo Rini dan Andreas agus KKN)
Kali Surabaya merupakan sumber air tawar bagi masyarakat yang hidup di Surabaya, ibukota propinsi Jawa Timur di Indonesia. Air Kali Surabaya telah tercemar oleh limbah domestik maupun limbah industri. Industrialisasi mendorong terjadinya urbanisasi yang meningkatkan beban pada daya dukung lingkungan di beberapa daerah antara lain Kecamatan Driyorejo. Driyorejo telah menjadi kawasan industri sejak tahun 1975 dengan kepadatan populasi penduduk yang meningkat pesat dalam 20 tahun terakhir. Kesadaran masyarakat untuk mempertahankan lingkungan sungai masih sangat rendah. Penduduk masih menggunakan sungai sebagai tempat buang hajat dan tempat pembuagang sampah. Hampir 80% limbah domestik yang dibuang ke sungai merupakan bahan organik yang akan membutuhkan oksigen untuk membantu penguraian oleh bakteri. Hal ini menyebabkan penurunan oksigen terlarut dalam air sungai sehingga dapat menimbulkan kondisi anoksik di perairan. Sungai akan kehilangan keanekaragaman hayati dan kehilangan fungsinya. Akibatnya biaya yang dibutuhkan untuk memurnikan air Kali Surabaya akan menjadi lebih mahal dan penduduk harus membayar lebih mahal untuk mendapatkan air bersih dari pemerintah.
Bagian terbesar dari limbah domestik adalah limbah organik yang dapat digunakan untuk membuat kompos. Kompos dapat dibuat dengan memanfaatkan aktivitas cacing tanah (Lumbricus rubellus) untuk menguraikan bahan organik dengan membutuhkan waktu yang lebih singkat dibandingkan proses pembuatan kompos secara konvensional. Kotoran cacing (casting) atau faeces yang dihasilkan cacing tanah merupakan bahan yang kaya akan nutrisi yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan disebut vermicompost. Vermicompost mudah diserap oleh tumbuhan, lebih seragam, dan lebih stabil daripada kompos konvensional.
Sebagian penduduk di Kecamatan Driyorejo bekerja sebagai petani yang membutuhkan pupuk untuk menyuburkan tanah yang ditanaminya. Kompos yang dihasilkan dapat digunakan sebagai pupuk organik untuk menyuburkan tanah di kebun dan sawahnya atau dijual kepada petani di daerah lain. Kelebihan cacing yang didapatkan dari proses vermikompos dapat digunakan atau dijual sebagai umpan cacing, pakan ternak ayam dan bebek. Untuk itu Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan basah Ecoton, dan POSKO IJO (Kelompok Swadaya Masyarakat Driyorejo ) didukung oleh Rufford Grant Melkukan kegiatan Pengenalan pengelolaan Sampah dengan Cacing, yang menghasilkan Kascing (kompos Cacing)

Tujuan Kegiatan Tersebut adalah
a. Untuk melatih masyarakat dalam membuat kompos cacing
b. Mengurangi pencemaran organik dari limbah domestik
c. Meningkatkan pendapatan penduduk lokal dengan meningkatkan pengetahuan dan keahlian dalam pembuatan kompos cacing dari limbah domestiknya sendiri

Kegiatan ini akan melibatkan lima desa yang berada di bantaran Kali Surabaya, kegiatan utama adalah membentuk kelompok-kelompok kecil disetiap Rukun Tetanga (RT) untuk memulai memilah jenis sampah yang akan dibuang. Selain itu juga dilakukan studi banding ke tempat-tempat yang telah melakukan/menerapkan pengelolaan sampah.

Penerapan Pengelolaan Sampah menjadi Kompos
tempat-tempat yang telah melakukan pengelolaan sampah tersebut antara lain:
1. Banjarsari IV (ibu Bambang Wahono) Jakarta Selatan, pengelolaan sampahnya sebagian besar dengan metode kompos biasa (dengan bantuan bakteri) dan skala rumah tangga dan sebagian kecil (dikelola oleh RT) menggunakan Cacing, karena kebanyakan ibu-ibu di Banjarsari jijik dengan cacing.
2. Rawasari (Pasar Rawa Kebo)-Jakarta Timur, Mandra (pengelolah harian) dampingan/program BPPT (dengan skala lebih luas mencakup pengelolaan sampah di Pasar Rawa Kebo dan RW di sekitar Rawa sari) Pengelolaan 100% dengan cacing
3. Kebun Binatang Ragunan, di kebun binatang ini hasil komposnya ditelah dipasarkan, bahan komposnya berasal dari kotoran hewan penghuni KBS (gajah, kuda, Jerapah )
4. PPLH Seloliman, pengelolaan sampah di desa Seloliman ini memisahkan sampah organik dan sampah anorganik, dan telah berjalan hampir 10 tahun, hasil komposnya telah dipasarkan.
5. PPLH Bali, pengelolaan sampah di Kuta (kawasan sekitar PPLH) awalnya menerapkan sistem Vermikompos namun Pemda setempat telah menarik retribusi dan penglolaan sepenuhnya dilakukan oleh Pemda setempat, sebenarnya awalnya berjalan dengan baik, dimulai dengan program 10 orang KK. Saat ini pengelolaan sampah dengan cacing masih dilakukan di lokasi PPLH Bali (di Jalan Danau Tamblingan-Kuta), selain PPLH bali di UNUD (ibu Hartini) juga menerapkan program vermikompos dengan bahan kompos berasal dari Rumah Potong Hewan di kuta.
6. Di Jogjakarta, dampingan teman-teman dian desa ini telah berhasil mengelolah beberapa wilayah RW. Metode yang dipakai dengan kompos bawah Bukan cacing.
7. Didesa Bambe-Gresikjawa Timurbaru 6 bulan menjalankan pengelolaan sampah menjadi kompos dengan cacing, awalnya melibatkan 10 KK, dan mensosialisasikan metode pemilahan sampah (awalnya warga setempat membuang sampah kebadan air) .



Metode Pembuatan Kompos
Membuat kompos cacing di rumah kita adalah salah satu cara untuk mengurangi jumlah sampah dengan memanfaatkan sampah organik menjadi kompos yang merupakan pupuk organik ramah lingkungan dan cacing yang bernilai ekonomis tinggi.
Cacing merupakan tabung pencerna sampah yang sangat efisien. Sampah organik masuk dari ujung depan dan kotoran yang keluar dari ujung belakangnya merupakan pupuk yang sangat baik bagi tumbuhan.
Cacing mencerna hampir seluruh sampah organik, dan lebih menyukai sampah organik yang telah melalui tahap pengomposan pendahuluan.

Cacing sangat menyukai sampah organic Jenis : sampah dapur, sampah kebun, kertas, potongan tumbuhan, bubuk teh dan bubuk kopi bekas, kotoran ternak dll.
Kelebihan Kompos cacing dari kompos biasa adalah :
1. Waktu penguraian sampah lebih cepat karena tidak hanya diuraikan oleh oleh kumpulan mikro organisme tetapi juga dibantu oleh cacing
2. Cacing menghasilkan bahan nutrisi yang lebih mudah diserap oleh tumbuhan.
3. Tidak memerlukan panas dan tidak perlu dibolak-balik.
Pembuatan kompos sebenarnya tidak terlalu rumit, hanya dimulai dari pengelolaan sampah dari rumah tangga yaitu sampah organik (sampah basah). Untuk pembuatannya kita memerlukan perlengkapan serta bahan-bahan yang diperlukan.
1. Cacing Lumbricus rubellus
2. wadah kompos : kotak kayu/plastik
3. kompos jadi untuk bedding
4. talam
5. ayakan
6. termometer
7. pencacah sampah : penggiling kelapa/cabe/kopi

CACING KOMPOS
Jenis cacing tanah Lumbricus rubellus mampu hidup dalam populasi yang padat. Lumbricus rubellus sering ditemukan di bawah guguran daun atau tumpukan kotoran ternak dan tidak menggali jauh ke dalam tanah seperti Allolobophora caliginosa (field worm) atau cacing tanah besar Lumbricus terrestris.
Ciri Khas Lumbricus rubellus
1. Bagian atas merah kecoklatan atau merah ungu
2. Permukaan bawah berwarna pucat
3. Menempati tanah lapisan atas, kawin dan bertelur di dalam tanah dengan membuat liang di dalam tanah bermineral
4. Berbiak dengan cara reproduksi seksual
5. Panjang 60-150 mm, diameter 4-6 mm
6. Dewasa dalam 179 hari dengan masa hidup 682-719 hari
7. Menghasilkan 79-106 cocoons pertahun perekor cacing
8. Diapause dalam bentuk bola pada kedalaman 0.45 m di dalam tanah

Pemanfaatan Cacing untuk Membuat Kompos
Salah satu metode pembuatan kompos adalah dengan memanfaatkan cacing tanah terutama dari jenis Lumbricus rubellus yang secara alami berperan dalam penguraian bahan organik. Metode kompos cacing (vermikompos) ini ternyata lebih efektif dibandingkan metode kompos biasa yang hanya mengandalkan aktivitas bakteri pengurai.
Dalam sistem kompos cacing, bakteri pengurai terutama bakteri aerob tetap aktif menguraikan sampah dan penguraian lanjutan dilakukan oleh cacing tanah yang mencerna sampah tersebut. Penguraian dengan cacing ini tidak menimbulkan bau seperti pada pembuatan kompos biasa karena terjadi secara aerobik. Disamping itu waktu yang dibutuhkan untuk menguraikan sampah juga lebih cepat dan kotoran cacing (kascing) yang menjadi kompos merupakan pupuk organik yang sangat baik bagi tumbuhan karena lebih mudah diserap dan mengandung unsur makro yang dibutuhkan tanaman.
Jenis cacing yang banyak digunakan untuk membuat kompos cacing adalah Lumbricus rubellus. Cacing ini merupakan cacing yang hidup di tanah lapisan atas, berwarna merah kecoklatan dan bagian bawahnya berwarna lebih pucat kekuningan. Cacing ini merupakan cacing yang rakus dan mampu hidup dalam populasi yang padat.
Vermikompos adalah kotoran (tinja) cacing. Sampah organik diuraikan oleh mikroba dan dicerna oleh cacing. Pembuatan vermikompos sangat mudah, yang penting disiapkan adalah tempat, kotoran ternak, sampah organik dan cacing tanah pemakan tumbuhan. Sampah organik antara lain adalah sampah perkebunan, kotoran ternak, potongan rumput, sampah dapur dan sebagainya.

Proses Pembuatan
Bahan media dapat menggunakan bahan organik yang berserat tinggi seperti jerami, gedebog pisang, sabut kelapa, kertas, kompos cacing dan lain-lain. Media harus diangin-anginkan terlebih dahulu, disirami air dan dibalik sedikitnya 3 kali selama 2-3 minggu. Jika bahan media sudah agak lembut baru dapat digunakan sebagai media cacing. Wadah dengan ukuran 1 x 1 x 0,3 meter mampu menampung 30-40 kg media dan bahan makanan yang diisi dengan 1000 - 1500 ekor cacing. Kelembaban harus dijaga 40-50%, ph 6.3-7.5, dan suhu 20-30 derajat celcius. Cacing tanah akan mencerna dengan aktif sampah yang diberikan dan mengeluarkan kotoran berbentuk butiran kecil. Biarkan cacing mencerna bahan kompos hingga terbentuk butiran-butiran kecil. Cacing ranah membutuhkan waktu 7 minggu untuk menjadi dewasa dan pada minggu ke-8 akan mengelluarkan telur (kokon). Satu ekor cacing dewasa dapat mengeluarkan 2 kokon perminggu dan tiap kokon dapat menetaskan 2-3 ekor caacing setelah masa inkubasi 5-10 hari. Populasi cacing akan berlipat ganda dalam waktu 1 bulan.
Panen Vermicompost
Pemanenan vermikompos dapat dilakukan secara manual dengan menumpahkan isi wadah kompos ke tanah yang diberi alas dan membentuk gundukan menyerupai gunung dan biarkan beberapa saat. Cacing akan pindah ke bagian dasar gunung untuk menghindari cahaya matahari. Vermikompos dapat diambil mulai dari puncak gundukan dan cacing dapat dipindahkan ke media baru yang sudah disiapkan sebelumnya.
Vermikompos yang diperoleh dikeringkan dan diayak untuk menjaring kokon dan cacing muda serta bahan organik yang belum terurai. Kokon dan cacing muda dimasukkan ke dalam media baru. Vermikompos yang sudah disaring merupakan pupuk yang kaya akan unsur hara makro dan bakteri pengikat nitrogen.
Hama dan Pemangsa
Pemangsa cacing tanah antara lain burung, unggas, tikus, katak, ular dan semut. Lokasi penempatan sistem kompos cacing harus terlindungi dari pemangsa tersebut.
Penerapan Kompos Cacing
Metode kompos cacing telah banyak dilakukan oleh beberapa instansi seperti Dinas Kebersihan DKI Jakarta Pusat, Dinas Kebersihan Kota Bandung dan Kebun Binatang Ragunan serta beberapa peternak cacing di Jawa Barat. Sistem penerapan yang dilakukan di ketiga lokasi diuraikan sebagai berikut.
1. Rawa Sari Jakarta Pusat
Intalasi pengolahan sampah di Rawa Sari menerapkan sistem pengolahan sampah terpadu dengan prinsip zerowaste management. Semua sampah yang diterima diupayakan untuk diolah dan dimanfaatkan hingga tidak ada sampah yang terbuang. Pengolahan terdiri dari pembuatan kompos cacing, pembuatan kertas daur ulang, pencacahan plastik serta insenerasi. Jenis sampah yang diolah adalah sampah rumah tangga yang terdiri dari berbagai jenis sampah. Instalasi ini menampung sampah dari beberapa RT di sekitar lokasi pengolahan yang diangkut dengan gerobak sampah.
Untuk pembuatan kompos cacing, proses yang dilakukan adalah :
a. Pemilahan sampah
Sampah harus dipilah untuk memisahkan sampah organik dari sampah anorganik. Sampah organik akan digunakan sebagai media cacing.
b. Persiapan Media Cacing
Sampah diangin-anginkan selama 6 minggu dengan melakukan pembalikan dan penyiraman 2 kali dalam seminggu agar dicapai suhu homogen dan tidak panas.
c. Peletakan Cacing Pada Media
Media kemudian diletakkan di atas bedengan kayu yang dilapisi plastik terpal dan diberi cacing Lumbricus rubellus
d. Pemberian makan
Cacing dipelihara selama 6 minggu dan setiap 2-3 hari diberi makan sayuran segar yang digiling menjadi bubur kasar
e. Pemanenan Kompos
Setelah seluruh sampah habis dimakan dan tampak butiran halus kotoran cacing memenuhi bedengan, kompos cacing dapat dipanen.
2. Kebun Binatang Ragunan Jakarta
Pengolahan sampah dengan membuat kompos cacing sudah dilakukan sejak tahun 1990 untuk memanfaatkan sampah tumbuhan yang jumlahnya sangat banyak seperti guguran daun, potongan rumput, dan sampah pengunjung kebun binatang serta sampah kotoran hewan. Metode yang dilakukan adalah :
a. Pemilahan Sampah
Sampah dipilah untuk memisahkan sampah organik dan sampah nonorganik
b. Persiapan media
Sampah organik dicampur dengan kotoran gajah diaduk, ditumpuk dan dicetak persegi untuk tahap pengomposan awal selama 15-20 hari dan dilakukan penyiraman dan pembalikan setiap 3 hari
c. Pemeliharaan Cacing
Media dimasukkan ke dalam bak plastik dan diberi 250 gram cacing Lumbricus rubellus. Bak plastik disusun di atas rak kayu tiga tingkat. Cacing diberi makan kotoran banteng atau gajah setiap 3 hari selama 1 bulan
d. Pemanenan Kompos Cacing
Setelah 30 hari timbul butiran halus kotoran cacing (vermikompos), kompos dapat dipanen dan cacing dipindahkan ke media baru atau digunakan sebagai pakan satwa antara lain ikan dan unggas. Telur dipisahkan kompos dengan mengayak media cacing yang telah dipanen.
Manfaat yang Diperoleh
Dengan menerapkan vermikompos, kita dapat mendaur ulang sampah dan menghasilkan pupuk organik. Cacing yang berlebih dapat digunakan sebagai pakan ternak dan ikan. Keuntungan dari teknologi vermikompos ini diuraikan sebagai berikut.
1. Mendaur ulang limbah organik
2. Mengurangi pencemaran lingkungan
3. Menyediakan lapangan kerja baru
4. perbaikan struktur tanah, pH dan perkolasi serta meningkatkan kemampuan tanah dalam mengikat air
5. Merangsang pertumbuhan sistem perakaran
6. Sumber protein bagi ternak
Kotoran cacing (vermikompos) mengandung nutrisi yang dibutuhkan tanaman. Penambahan vermikompos pada media tanaman akan mempercepat pertumbuhan, meningkatkan tinggi dan berat tumbuhan. Jumlah optimal vermikompos yang dibutuhkan untuk mendapatkan hasil positif hanya 10-20% dari volume media tanaman. Pemberian vermikompos pada tanaman secara teratur akan mengurangi kebutuhan pupuk kimia.
(dirangkum dari catatan Kegiatan Pelatihan cacing Kompos Sebagai Upaya Mengurangi Sampah dan menjaga Kualitas Kali Surabaya)
 

InSWA Jakarta - Indonesia

Gedung BPPT Lt.1 Jl. Husni Thamrin - Jakarta Pusat
Indonesia